Sudah Siapkah?

Semakin mendekati bulan kelahiran baby N yang menurut prediksi dokter akan “launching” di bulan Februari tahun depan, persiapan demi persiapan pun mulai dilakukan. Karena kebetulan ibuku masih penganut faham pamali kalo belanja keperluan bayi sebelum 7 bulan, maka aku pun belum mencicil barang-barang baby N. Hanya sekedar browsing, apa sih baju-baju newborn yang harus dipersiapkan termasuk berapa jumlahnya, trus perlu nggak beli stroller dari sekarang sampe berbagai merk dan review clodi. Cek-cek harga juga sih, biar untuk perbandingan kalo seandainya nanti mulai belanja ke baby shop, walopun nggak menutup kemungkinan kalo ada beberapa item yang mesti beli online. Nah ini pun aku sudah mengantongi beberapa kandidat online shop yang terpercaya

Lepas dari semua keperluan bayi itu, hal paling mendasar yang jadi pertanyaan adalah sudah siapkah kami menjadi orangtua? Sori kalo postingan ini terkesan serius😀

Kebetulan pernah nanya sama suami, “Udah siap belum Yah, jadi Ayah yang sebenarnya?”, dijawab insya Allah siap. Kalo aku sendiri, sudah sangat siap. Mengingat sudah 13 bulan juga kami menanti kehadiran anak di tengah keluarga kami. Tapi bukan cuma sekedar itu. Anak bukan hanya pelengkap di sebuah keluarga. Tetapi anak adalah titipan-Nya, termasuk ujian juga dari-Nya, apakah kita sanggup membagi waktu kita untuknya, mendidik dia menjadi anak yang bukan saja berguna tapi juga berakhlak baik (apalagi di jaman seperti ini) dan apakah kita bisa menjaga titipan-Nya itu sampai kita “kembalikan” dia lagi kepada penciptanya. Anak itu titipan, seperti yang sering aku dengar dan aku baca. Memang kita miliki, tapi suatu saat bakal diminta lagi

Hahaha tambah serius ya tulisannya

Semua orangtua pasti bakal memberikan yang terbaik untuk anaknya. Sama halnya dengan kami. Selain mempersiapkan mental menjadi orangtua, tentu saja kami mulai memikirkan bakal seperti apa masa depan dia nanti, dalam hal ini tentu saja si baby N. Kita sih nggak muluk-muluk ya, pengennya bisa sekolahin dia setinggi-tingginya, sampe keluar negeri (lah itu muluk mbaakkk…), secara orangtuanya ini sekolahnya ya nggak tinggi-tinggi amat hehehe. Tapi yang jadi konsentrasi utama kami itu bukan sekolahnya, tapi akhlaknya dulu. Untuk apa nantinya sekolah sampe ke Antartika (emang ada?!), tapi sama orangtua sikapnya nggak sopan, ngomongnya sok kebule-bulean, lupa sama bahasa negaranya sendiri dan lain lain dan lain lain. Jujur miris banget lihat anak jaman sekarang. Apalagi mengingat anak kami nantinya bakal jalanin kehidupan “gaul”-nya di jaman yang -entah kita nggak tahu smartphone masih laku apa enggak-

Kalo suami sih pernah bilang, pokoknya anak cewek nggak boleh pakai baju minim, jam malamnya juga diatur jangan sembarangan keluyuran (anak cewek-cowok sama aja peraturannya). Tapi prakteknya sih ya nggak tahu juga, bakal ngefek ke si anak atau nggak. Mengingat kami dulu masa-masa pacaran pun punya jam malam, jam 10 udah sampe rumah masing-masing, lah booo’ rumah kita jaraknya ujung ke ujung, jadi biar sama-sama nggak dipelototin ortu ya udah jam 9 itu si pacar mulai nganterin aku pulang ke rumah, biar nggak lewat dari jam yang udah ditentukan. Alhamdulillahnya kita berdua itu setipe. Nggak suka nongkrong nggak jelas gitu. Palingan ya makan, nonton atau pacar nemenin aku belanja baju kerja atau sepatu kerja. Kebetulan aku juga bukan orang yang bisa diajak begadang, jam 11 malem aja udah tepar, jadi ya nggak ada itu namanya kencan buta alias kencan sampe pagi buta. Nah pengennya sih anak kami ya begitu itu. Insya Allah nurun ya yang baik-baiknya hahaha

Yang pasti sih semua bakal mengalir sesuai apa yang terjadi nanti. Lagi-lagi kita sebagai ortu ya harus ngasih contoh sekaligus meluangkan waktu buat komunikasi sama anak. Anak itu butuh diajak bicara, karena kalo nggak diajarin dari sekarang untuk terbuka, yang ada dia bakal cari tempat lain untuk cerita. Jangan dititipkan di penitipan anak yang mahalnya selangit tapi pas di rumah eh anaknya dicuekin, ya sama aja bohong, nggak punya ikatan batin sama ortu jadinya

Well, disini aku bukan mau sok menggurui, tapi jujur aku banyak “belajar” dari cerita-cerita pola asuh anak para blogger yang sering aku baca blognya. Semuanya positif dan memang nggak bisa aku tiru semuanya. Tapi aku saring mana yang cocok aku terapkan juga ke anakku nantinya, mana yang nggak cocok. Sekarang yang aku perlukan adalah mempersiapkan mental saat persalinan nanti, melahirkan baby N yang udah 9 bulan setia aku bawa kemana-mana. Lewat cara persalinan apapun, normal atau caesar, insya Allah aku siap. Yang terpenting baby N dan aku sehat, selamat tanpa kurang satu apapun

Jadi, sudah siapkah aku menjadi seorang ibu?? Bunda siap, anakku🙂

2 thoughts on “Sudah Siapkah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s