Review : Finding Srimulat

Gegara mau nonton Madre, eh udah nggak tayang. Mau nonton Lupus, juga udah nggak tayang. Akhirnya cari alternatif film lain. Btw kenapa yak pada singkat-singkat tayangnya, gagal produksi nampaknya. Liat di web 21, Finding Srimulat udah tayang. Kebetulan nih, lagi butuh film yang kocak. Langsung deh beli tiket IDR 25.000, seperti biasa melenggang sendirian, sengaja pilih tempat duduk area D biar nggak terlalu jauh dari layar, maklum mata rabun, kebetulan juga sepi jadinya pilih tempat duduk pun agak bebas. Eehh lha koq orang yang duduk di nomer C 14 (berarti serong kananku yaa), kakinya itu nendang-nendangin kursi yang di depannya alias sampingku yang kosong. Emang nggak ada orang disitu tapi tetep aja lah aku kerasa. Udah dipelototin berkali-kali masih juga sama, sampe akhirnya aku teriakin, “Oooii kaki lu tuh…!!”, baru agak tenang dikit. Edan bener ya orang nonton jaman sekarang, kalo nggak ngerecokin orang koq nggak enak kayaknya

Balik ke filmnya, jadi ini film sepertinya ingin menaikkan kembali pamor Srimulat yang pernah berjaya tahun….hmm berapa ya? Pokoknya seingetku itu sekitar tahun 98-99 gitu masih sempet nonton Srimulat yang tayang di RCTI tiap malem. Widih kalo udah nonton itu, ngumpul semua orang di rumah, ngakak bareng. Kebetulan memang orang Jawa, jadi ya nggak perlu terjemahan kalo pas mereka lagi ngomong. Buat anak jaman sekarang mungkin nggak familiar kali ya sama Srimulat, taunya sinetron alay atau film horor esek-esek. Kasian ya sebenernya karena nggak kenal Srimulat. Huwahahahaha

image

Film dimulai dengan adegan Adika, panggilan Adi (Reza Rahadian) menceritakan mimpinya dan masa kecilnya yang sudah ngefans banget sama Srimulat. Adi ini udah punya istri, Astrid (Rianti Cartwright), yang lagi hamil besar dan mendekati waktu persalinan. Adi kerja di salah EO kecil yang pada akhirnya bangkrut karena ide Adi dicuri oleh Zolim (Fauzi Baadillah) yang kerjasama dengan EO besar. Adi yang sedang putus asa karena lagi giat-giatnya nabung buat persalinan istrinya yang harus caesar karena sungsang, malah kehilangan pekerjaan. Dalam keadaan gelisah, lagi nyetir eh mobilnya mogok. Ada pemuda (sepertinya pelawak juga, mukanya familiar tapi namanya nggak tau) yang bantu dorong mobilnya minggir ke sebuah halaman yang ternyata parkiran warung soto milik Kadir. Adi yang memang penyuka Srimulat, tiba-tiba punya ide untuk membuat pementasan reuni para anggota Srimulat. Dianter oleh Kadir, ke bengkel milik Tessy. Tadinya Tessy ragu, tapi karena didukung sama karyawan bengkelnya, akhirnya dia mau juga. Trus mereka nelpon Mamiek, nyari Gogon, sampe akhirnya mereka semua kecuali Kadir (dia alasannya sakit), pergi ke Solo untuk menemui Bu Djudjuk. Nah disinilah dimulai cerita bagaimana ribetnya menyusun kembali pementasan Srimulat

Entah kenapa aku itu paling suka kalo denger orang Jawa ngomong. Selain ngerti bahasanya, juga kesannya lebih merakyat gitu. Medhok-medhoknya itu lho, bikin laki-laki bertampang sangar yang kalo ternyata ngomongnya bahasa Jawa eh jadi nggak sangar lagi deh. Jadi sepanjang film yang ada percakapan dalam bahasa Jawa, aku ikut ketawa-tawa. Nggak dikasih terjemahan pula, nggak tau deh yang nggak paham, mungkin mengira-ngira sendiri artinya. Dan ada lagu yang dinyanyiin Kadir yang sangat-sangat bikin aku kangen masa kecilku di Jawa, “Sluku-sluku bathok, bathok’e ela elo, si romo menyang Solo, leh olehe payung mutho, mak jenthit lolo lobah, wong mati ora obah, yen obah medheni obah, wong urip golek’o duit”. Cadaasss bener kan lagunya. Haduh jadi pengen mudik. Trus ada flashmob Srimulat di stasiun Balapan (duh pengen ke Solo….), cameo Pak Jokowi lagi diwawancara tentang flashmob itu trus gurauan antara Gogon-Tessy yang kocak. Sayang sudah banyak dari mereka yang berpulang, kayak Pak Asmuni, Pak Timbul, Pak Gepeng dan ada beberapa lagi yang foto-foto kenangannya ditampilkan di akhir film. Mereka semua tampil persis seperti dulu, nggak ada yang berubah. Kadir dengan khas logat Maduranya, Bu Djudjuk dengan gaya keibuannya, Mamiek yang rambut cambangnya dicat kuning (ciri khas banget ini), Gogon dengan rambut rumput segaris doang dan Tessy alias Kabul yang selalu memperkenalkan diri sebagai Tessy Wahyuni Riwayati Hartatik😆

Walopun ada beberapa adegan yang menurut aku agak dilebih-lebihkan, secara keseluruhan film ini layak untuk ditonton. Daripada buang duit untuk nonton film horor nggak jelas ngalor ngidul ceritanya, ya kalo aku mending nonton ini deh. Btw tadi pas nonton iseng beli cemilan french fries-nya 21, ternyata enak juga ya. Selama ini selalunya beli popcorn doang

image

2 thoughts on “Review : Finding Srimulat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s