Rumput Tetangga (Kelihatannya) Lebih Hijau

Kemaren pas lagi jemur pakaian pagi-pagi, ngeliat tetangga -beda beberapa rumah- gendong anaknya (kita sebut ibu X) masuk ke rumah tetangga sebelah (sebut saja ibu Q). Setahu aku emang si ibu X ini nitipin kedua anaknya di ibu Q. Ibu X dan suaminya dua-duanya kerja. Jadi anak-anaknya dititipin gitu. Nah pas si ibu X ini udah serah terima dengan ibu Q, anaknya yang kecil -masih balita- refleks nangis. Yaiyalah mungkin lagi enak-enaknya digendong ibunya, mesti berpindah tangan ke orang lain. Ini bukan aku yang kepo ya atau kerajinan merhatiin tetangga, jadi aku ngeliat ibu X dengan muka kosongnya, jalan sambil nunduk, buru-buru menjauh dari rumah ibu Q, trus ibu Q langsung nutup pintu rumahnya. Kedengeran sampe keluar suara anaknya ibu X yang nangis. Ibu X langsung naik motor, yang dikendarai suaminya dan buru-buru melaju pergi

Aku yang lagi sibuk ngerjain kerjaan rumah cuma bisa ngelus dada. Dilema ibu yang bekerja. Kalo kerja, mesti jauhan sama anak. Kalo nggak kerja, kebutuhan kurang tercukupi. Semua ibu pasti ingin tahu perkembangan anaknya dari dekat. Tapi jaman sekarang, semua harga kebutuhan naik, mau nggak mau memaksa ibu-ibu pun harus ikut bekerja buat bantu ekonomi keluarga

Pernah aku nyeletuk sama temenku, “Enak deh yang masih bisa ngerasain gajian, bisa ngerasain rutinitas kerja. Kalo kayak aku mah boring di rumah mulu”. Eh temenku gantian jawab, “Lah malah aku kepengen kayak kamu, duduk santai di rumah, mau ke mal tinggal jalan, duit ngalir sendiri ke rekening” *glekk*

Seperti kata Mamaku dalam bahasa Jawa, Wong Urip Iku Mung Sawang Sinawang (Orang Hidup Itu Hanya Saling Lihat-Melihat). Yang kalo dijelaskan lagi bahwa terkadang (bukan kadang lagi, tapi pasti) kita pengen menjadi seperti temen kita yang contoh: masih bekerja, sibuk dengan tugas-tugas kantornya. Sementara temen kita malah pengen jadi seperti kita yang contoh: jadi ibu rumah tangga yang masih bisa ngerasain tidur siang atau nge-mal dengan santainya. Bersyukur, sepertinya itu jawaban yang pas ya buat ngadepin situasi apapun. Masih dapet kerjaan dengan posisi yang bagus, syukuri aja, walopun harus lembur, gaji naiknya kayak siput atau bahkan telat nerima gaji. Yang udah resign dan mesti ngurus rumah-anak-suami, juga harus bersyukur, karena betapa banyak ibu-ibu bekerja di luar sana yang menginginkan posisi seperti kita

Rumput tetangga memang (terkadang) terlihat lebih hijau. Tapi rumput kita sendiri (tetep) yang paling asyik😀

2 thoughts on “Rumput Tetangga (Kelihatannya) Lebih Hijau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s